Bandarq Online JuaraQQ
Suhu Bola BandarQ Online, Domino Qiu Qiu, Agen Domino 99 x

Cerita Sex Rintihan Derita Masa Lalu Tante Olive

Video Rate:
4 / 5 ( 4votes )
8490 views

Videobokepz.OnlineCerita Sex Rintihan Derita Masa Lalu Tante Olive,Mungkin saja Anda pernah membaca cerita tentang Vivian, gadis keturunan China yang diperkosa waktu kerusuhan massal akibat krisis di negera kita terkasih. Baru ku tahu semalam, gadis yang bernama Vivian tidak lain yaitu tante Olive. Lihat kondisiku saat ini, tante Olive banyak menceritakan, ia membagikan kisahnya yang perih padaku. Mungkin saja sebatas memiliki pengalaman pahit yang sama, saya serta tante Olive jadi akrab. Hal terburuk yang ia alami yaitu sebelumnya ia pergi ke Jepang, tepatnya waktu negara kita alami krisis yang begitu serius, tepatnya waktu itu umur tante Olive sekitaran delapan belas th.. Nama asli tante Olive yaitu Vivian, lantaran hal jelek itu lah tante Olive mengubah nama serta coba hidup baru di Jepang. Bukan sekedar tante Olive, banyak gadis-gadis keturunan yang alami hal sama, tetapi umumnya cobalah kabur dari Indonesia, ada yang ke Singapura, Taiwan, Hongkong, Malaysia, serta Jepang. Seperti tante Olive, mereka mencari negara yang lebih aman serta dapat untuk mereka untuk mengawali kehidupan yang tambah baik. Tersebut bakal saya katakan kembali cerita tante Olive yang alami pengalaman jelek seperti saya ini.

om

Namaku Vivian, umurku sekitaran delapan belas th., saya yaitu anak sulung dari tiga bersaudara. Adik perempuanku bernama Fenny, umurnya sekitaran lima belas th., berwajah cantik seperti saya yang berperawakan oriental, sedang adik lelaki ku bernama Donny, umurnya sekitaran dua belas th.. Kami tinggal berbarengan orangtua kami di satu apartemen, tepatnya di lantai tujuh.
Waktu itu hari masihlah pagi, sekitaran jam sembilanan kami mendengar nada gaduh diluar kamar kami. Nada itu yaitu nada segerombolan orang yang datang ke apartemen serta mereka berteriak, ” Kami ingin bunuh orang China! ” Saya telah sadari hal semacam ini bakal berlangsung, lantaran terlebih dulu saya ada nonton berita yang memojokkan satu diantara suku yang dituduh sebagai penyebabnya krisis. Tak tahu siapa salah, yang pasti terdapat banyak pihak coba mengadu domba, kami sebagai golongan minoritas jadi tujuan yang bakal terserang. Pemerintah tak dapat berbuat apa-apa, bahkan juga kepala negera saja tak ada di ‘kandang’nya. Apa salah kami? Kami bukanlah orang China, namun kami juga sah sebagai WNI, mengapa mesti kami sebagai kambing hitam.
Sentimentil pada sebagian suku memanglah kerap berlangsung, sampai berbuntut pada kerugian pihak minoritas. ” Kami menginginkan makan babi! ” saya mendengar dengan terang teriakan itu. Saya tahu mereka berasumsi kami yaitu suatu hal yang disebutkan haram. Sampai nada dering telephone memecahkan kesunyian kami lantaran ketakutan. ” Hallo? ” saya cobalah angkat telephone itu. ” Vi, mereka telah di lantai dua… ” kata rekanku, Jessica yang menelepon dari lantai tiga. Mendengar itu saya segera kaget, tahu gerakan mereka amat cepat, kami ketakutan serta selekasnya mencari inspirasi.

Kami semuanya selekasnya keluar dari kamar, dari bawah sana Jessica berbarengan keluarganya juga lari menuju ke atas. Kami mustahil lari ke bawah, karenanya sama juga dengan mengantar nyawa. Kami teringat dengan paman Dodi yang tinggal di lantai lima belas, kami selekasnya lari melalui tangga untuk tangga.
Gerakan mereka amat cepat, mungkin saja ada beberapa puluh bahkan juga beberapa ratus massa itu masuk ke apartemen, beberapa lewat tangga serta beberapanya lagi lewat lift. Kami pada akhirnya temukan kamar paman Dodi serta selekasnya masuk untuk bersembunyi. Paman Dodi serta istrinya juga tengah ketakutan. Saya saksikan Jessica serta keluarganya masuk ke kamar lain, tempat kenalan mereka.
Dari dalam kamar kami masihlah mendengar terang nada gaduh dari luar sana, nada lift terbuka serta nada pintu-pintu didobrak. Lalu juga terdengar nada wanita serta anak kecil yang berteriak kesakitan. Kami telah kuatir, lantaran sebentar lagi kamar ini mungkin saja bakal jadi tujuan, saya selekasnya bersembunyi dibawah ranjang, sedang yang lain ada dibalik almari, toilet, serta dibawah meja. Lalu kami mendengar nada anak kecil menangis sembari berteriak, ” Ibu… Ma… Ma… Sakit sekali “. Saya tidak paham apa yang tengah berlangsung pada anak itu, yang pasti ia tentu memperoleh perlakuan yang menyakitkan.

Sekitaran 1/2 jam berlalu, kami mendengar nada telah sunyi, tak terdengar nada lagi. Kami juga tak demikian takut lagi, lalu paman Dodi coba mengintip keluar kamar, tuturnya aman untuk kita turun serta kabur dari apartemen ini. Kami semuanya selekasnya keluar kamar, namun apa yang kami peroleh, satu panorama yang begitu menyakitkan, kami lihat sangat banyak perempuan yang terbaring di lantai, sebagian masihlah anak kecil, mungkin saja nada teriakan yang tadi. Mereka semuanya dalam kondisi telanjang bulat, daerah kewanitaan mereka berdarah, kelihatannya merk diperkosa dengan cara ramai, bahkan juga anak kecil itu berumur sekitaran sepuluh th.. ” Ya Tuhan, apa yang telah berlangsung? “, saat lihat apa yang ada di depan mata kami juga mulai menangis. Adik perempuanku Fenny menangis serta dengan erat memeluk ayah, saya juga mulai menangis. Nada gaduh kembali terdengar di kamar yang dimasuki Jessica serta keluarganya, mungkin saja massa tengah ada didalam sana. Supaya bisa kabur, kami mesti selekasnya turun ke bawah, dengan cara berbarengan kami turun tangga, sampai hingga ke lantai sepuluh. Kami kembali mendengar nada teriakan minta tolong, kami bergegas turun untuk lihat. Nyatanya apa yang kami saksikan yaitu empat pria tengah memperkosa seseorang perempuan berusia sekitaran dua puluh th.. Kami baru mengerti kalau kami salah mengambil jalan, saat ini kami juga bertemu dengan bahaya, turun ke bawah juga bukanlah jalan keluar untuk kami. Dengan jantung yang berdegup kencang, kami segera tergesa-gesa naik ke atas lagi, namun nyatanya beberapa orang itu telah menarik serta menahan Fenny, kami ingin menolongnya namun tak ada langkah. Beberapa orang itu sangat ramai, kurang lebih sekitaran enam beberapa puluh orang, mereka semuanya membawa senjata, perawakan mereka begitu jahat, hitam serta penuh tatto seperti preman. Kami tak dapat melarikan diri lagi saat massa dari lantai atas menyerbu ke bawah. Mereka membawa kami masuk kedalam satu kamar. Paman Dodi coba nenanyakan mereka ” Apa yang sesungguhnya kalian kehendaki? “, namun bukanlah jawaban yang diterimanya tetapi pukulan keras pas di perutnya. Tak ada yang menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan paman Dodi, mereka semuanya begitu bringas, cuma dapat memukul serta lakukan tindak kekerasan.

Saya saksikan sebagian orang yang memegangi Fenny akan lakukan suatu hal, rambut Fenny dijambak, serta satu diantara pria brewokan menciumi bibirnya. ” Janganlah!… “, teriak ayah yg tidak tega lihat perlakuan mereka pada Fenny. Namun mereka jadi memukuli ayah dengan balok kayu yang mereka bawa sampai ayah tersungkur jatuh serta pada akhirnya tidak sadarkan diri. Fenny menangis ketakutan sedang saya cuma dapat pasrah, sebagian orang yang menangkapku juga mulai meraba badanku, saya menangis ketakutan, badanku gemetaran. Lihat kondisi kami, ibu iku menangis serta lalu pingsan.
Fenny telah seperti boneka, badannya lunglai, beberapa pria itu menarik terlepas semuanya baju Fenny tanpa ada perlawanan. Saya juga nyaris sama, mereka meraba-raba susu ku serta terdapat banyak yang menciumi leherku. Paman Dodi berusaha untuk tawarkan duit tunai pada mereka, ” Saya ada duit di kamar, kalian ambillah saja, namun bebaskan kami… “, bukannya tertarik dengan tawaran paman Dodi, namun mereka tak menghiraukannya, tawaran itu seakan tak bermanfaat untuk mereka.
Badan Fenny yang mungil telah telanjang bulat, susu nya yang baru tumbuh selalu dijamah tangan-tangan kasar pria-pria bejat itu. Sekitaran vaginanya juga cuma tumbuh bulu halus, beberapa massa tak tahu berteriak apa yang begitu ribut, bukanlah bhs Indonesia, itu yaitu sejenis doa. Lalu ada sekitaran lima orang memperkosa Fenny. Fenny masihlah selalu menangis, massa makin ramai, ada yang datang dari bawah serta ada yang turun dari lantai atas. Saya meyakini rekanku Jessica juga telah alami hal sama.
Lalu sekitaran sembilan orang menarik serta melemparku keluar dari kamar, mungkin saja maksud mereka yaitu untuk sharing dengan rekan mereka diluar sana. Sebelumnya keluar, saya pernah lihat istri paman Dodi, tante Vera juga ditarik serta dilempar keluar, bajunya juga telah agak berantakan akibat ditarik-tarik. Sedang paman Dodi telah jatuh pingsan lantaran selalu dipukuli.

Saya selalu memohon supaya dilepaskan, namun mereka begitu bringas, bajuku ditarik-tarik sampai sobek. Tante Vera telah bugil, ia juga selalu menangis, tetapi apa dapat diperbuat, ia telah dalam cengkraman belasan orang yang lalu memperkosanya dengan cara bergiliran. Dari luar saya mendengar nada rintihan Fenny, sungguh malang nasib kami. Sekitaran kami ada juga sebagian gadis dari kamar lain yang diperkosa juga, bahkan juga ada yang telah pingsan terlentang di lantai dengan keadaan yang mengenaskan, ada yang vaginanya masihlah tertancap tongkat kayu sampai berdarah-darah. Saya juga ketakutan, jantungku berdegup kencang, badanku telah mulai bugil lantaran bajuku selalu disobek. Dua pria telah menciumi susu ku bertukaran, terdapat banyak menciumi leherku, bahkan juga ada yang menyakitiku dengan menjambak rambutku. Saya lalu tidak sadarkan diri saat rasakan satu benda besar masuk kedalam vaginaku, lantaran terlebih dulu saya belum pernag lakukan jalinan sex, jadi ini suatu hal yang begitu menyakitiku. Ku saksikan pria hitam di depanku memasukkan penis besarnya kedalam vaginaku, waktu genjotan pertama saja saya telah jatuh pingsan.
Sekitaran jam lima sore, saat saya siuman, di sekitaran telah sepi tanpa ada kerumunan massa lagi, namub kepala merasa sakit sekali, mungkin saja lantaran tadi dipukul serta rambutku dijambak. Tak ada sehelai benang satupun yang menempel di badan ku. Lalu saya menangis, serta lihat keluarga ku masihlah ada didalam kamar. Ayah memeluk ibu serta adik lelaki ku, Donny. Sedang paman Dodi memeluk istrinya yang bugil serta merintih kesakitan.
Pada hari besoknya, saya juga dibawa ke RS Pluit, ayah serta ibu ada di samping ku, saya sembari menahan sakit ajukan pertanyaan, ” Ma, Fenny mana? “. Saya rasakan suatu hal yang begitu menyedihkan, ibu segera menangis, sepatah kata juga tak dapat disampaikan, ayah menahan air matanya serta tersenyum pahit kepadaku.
Empat hari lalu, situasi hati ku telah baikan, ayah menyampaikan dengan hati-hati pada ku, ketika itu, saat saya pingsan, ada sekitaran tujuh orang yang memperkosa ku sembari ditunggu gerombolan yang lain, ayah telah coba melawan, namun mereka selalu memperkosaku. Lalu, ibu dengan hati yang begitu sakit berkata, ” Vi, Fenny telah wafat… “. Saat itu juga saya segera menangis, ” Kenapaaaaa?? “. Ayah tidak dapat jawab pertanyaanku itu, dia menyuruhku untuk beristirahat serta dia juga jalan keluar, saya tak berhentinya menangis, saya telah tak miliki harga diri lagi.

1 minggu sudah berlalu, sesudah saya keluar dari RS, baru mengerti apa yang telah berlangsung. Fenny, saat diperkosa, terus-terusan memberontak, serta beberapa orang itu juga selalu memukulnya, hingga satu waktu Fenny memukul seorang dari mereka, serta orang itu segera mengambil sebilah pisau serta menusukkannya ke perut Fenny, tusukan untuk tusukan, keluar masuk, hingga pada akhirnya badan Fenny bersimbah darah serta mati. Ayah memberitahukan ku, paman Dodi juga lihat istrinya sendiri diperkosa, ” Ya Tuhan! Kenapa dapat berlangsung hal seperti ini? Tuhan ada dimana? Apakah Tuhan masihlah hidup? “.
Paman Dodi serta tante Vera, saat ini tinggal berbarengan kami. Saya serta ibu saya senantiasa menangis, lantaran mimpi jelek ini tidak pernah bakal dapat saya lupakan hingga mati. Saya luangkan diri juga untuk menjenguk rekanku Jessica yang juga alami nasib sama. Supaya saya dapat melupakan peristiwa ini, saya juga minta ijin ke orangtua ku untuk pergi merantau ke Jepang. Mengawali hidup baru, serta coba melupakan peristiwa menyakitkan ini, meskipun tidak dapat terlupakan.

Video Bokep Online Streaming:

,doyanpisang fun/category/cerita-dewasa/ Category: Cerita Dewasa Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related video